Sabtu, 11 Agustus 2018

Terbaru 2020 - Ciasmara-Sekeping Surga yang Terlupakan III: Curug Tebing, Curug Batu Sirep, Curug Hordeng dan Curug Saderi

Wisata Alam

Di kunjungan kedua lalu ke Desa Ciasmara, saya berjanji akan kembali lagi ke Desa ini. Bukan hanya karena pemandangan yang sangat Indah, juga karena masih ada beberapa curug yang belum saya kunjungi.

Hari minggu tepatnya tanggal 29 Juli, ditemani oleh Revan dan Gufron, dengan menguunakan 2 motor,  saya dan Revan mengunjungi desa ini untuk ketiga kalinya (Gufron baru untuk pertama kali). Tujuan kami yaitu curug-curug yang berada di aliran atas Curug Saderi. Berangkat dari rumah jam 7.30 kemudian kami bertemu di depan IPB Dramaga, untung cuaca cerah dan tidak terlalu macet pagi itu. Rute yang kami tempuh sama seperti sebelum-sebelumnya baik menuju CIasmara ataupun ke Ciasihan di mulai dari pertigaan Cemplang hingga sampai pertigaan Salak Endah-Ciasmara/Ciasihan hingga terus pertigaan Ciasmara-Ciasihan.
Tidak ada halangan atau kemacetan di sepanjang jalan hingga mencapai Gapura Selamat Datang di Desa Ciasmara yang sudah sangat usang. Memasuki pertigaan jalan desa menuju lokasi sudah terlihat jalan cor-coran dan saying sekali ternyata cuman sepanjang 1km, selanjutnya, seperti sebelumnya, jalan berbatu dan lobang-lobang. Untung saja semuanya terbalaskan dengan pemandangan hijau persawahan dan pegunungan berlapis-lapis serta kota yang berada di kaki gunung.
Salah satu sudut Desa Ciasmara
Salah satu sudut Desa Ciasmara
Salah satu sudut Desa Ciasmara
Salah satu sudut Desa Ciasmara
Salah satu sudut Desa Ciasmara
Sekitar jam 9.00 kami sampai di parkiran Curug Saderi. Di gerbang terlihat saung yang baru dibangun. Bertemu dengan Kang Ihir yang akan memandu kami ke atas dan bergabung dengan seorang traveler dari Jakarta yang bernama Andi Lala kami memulai perjalanan sekitar jam 9.30.
Memasuki parkiran Curug Saderi
Berjalan santai, menyusuri jalan setapak di pinggir sungai yang berair jernih di pandu oleh Kang Ihir, hanya sekitar 15 menit kamipun sampai di Curug Saderi. Karena tujuan pertama kami adalah curug yang terjauh maka kami tidak berlama-lama di Curug Saderi. 
Trek menuju Curug Saderi
Trek menuju Curug Saderi
Trek menuju Curug Saderi
Melanjutkan perjalanan, mendaki bukit yang ada di sisi kanan curug, menyusuri sisi tebing yang lumayan ekstrim. Hanya kira-kira 10 menit, kemudian turun hingga mencapai sungai. Di sini kami sudah berada di sisi atas Curug Saderi, terdengar gemuruh air yang jatuh menimpa bebatuan di bawahnya.
Trek di atas Curug Saderi

Trek di atas Curug Saderi
Menyusuri sungai, melewati beberapa curug-curug kecil, terasa kesejukan air menyentuh kulit seolah memberi energi untuk melanjutkan perjalanan.  Terus menyusuri sungai hingga terdapat curug-curug kecil yang di sebut Curug Batu Sirep (Curug batu Alam). Di sini kami berhenti sebentar. 

Trek di atas Curug Saderi
Trek di atas Curug Saderi
Trek di atas Curug Saderi
Curug kecil menuju Curug Batu Sirep
Curug kecil menuju Curug Batu Sirep
Curug kecil menuju Curug Batu Sirep
Curug kecil menuju Curug Batu Sirep
Curug Batu Sirep
Curug Batu Sirep
Tidak beberapa jauh dari Curug Batu Sirep kami sudah sampai ke Curug Kembar. Curug yang benar-benar cantik, bukan dua tapi ada 3 aliran curug sehingga lebih tepat disebut Curug Kembar Tiga, karena melewati tebing yang sangat cantik, curug ini juga di sebut Curug Tebing. Lagi-lagi kami cuman sebentar di sini karena harus melanjutkan perjalanan menuju curug selanjutnya.
Bertemu dengan Curug Kembar
Trek menuju aliran atas Curug Kembar
Untuk melanjutkan perjalanan dari Curug Kembar, kami harus menaiki tebing yang ada di sebelah kanan curug. Di jalur ini kita harus sangat hati-hati karena kondisi bebatuan yang licin, curam dan di sebelah kiri adalah tebing yang di bawahnya sungai berbatu. Sampai di atas kita harus menyusuri sungai lagi, tidak terlalu jauh dan akhirnya sampai di Curug Hordeng. Menurut Kang Ihir sebenarnya masih banyak curug di atas hanya saja jauh dan kecil-kecil karena terdiri dari 2 aliran sungai. Sementara curug-curug yang kami susuri ini adalah pertemuan dari dua sungai tersebut.
Meski Curug Hordeng ini hanya mempunyai tinggi sekitar 5 meter, tapi sangat unik. Air yang jath melewati tebing batu membentuk tirai sehingga disebut Curug Hordeng, sama seperti Curug Hordengyang ada di Cibeureum.
Di saat curug-curug lain mempunyai debit yang kecil dan sebagian lagi kering d imusim kemarau ini, tapi curug-curug di aliran sungai ini mempunyai debit yang besar. Di tambah dengan kesejukan air seperti curug lain yang ada di Gunung Salak, membuat saya menceburkan diri di curug ini. 
Bermain air di Curug Hordeng
Bermain air di Curug Hordeng
Curug Hordeng
Bermain air di Curug Hordeng
Curug Hordeng
Bermain air di Curug Hordeng
Karena ini adalah curug terakhir di trek kami, kami memutuskan di sini untuk istirahat sambil berenang dan masak air panas buat mie instan dan kopi yang cukup buat mengganjal perut. Untuk memasak, bisa mengambil air langsung di curug karena airnya bersih dan tidak terkontaminasi belerang.
Curug Hordeng
Memasak di area Curug Hordeng
Setelah cukup lama di Curug Hordeng kemudian kami memutuskan kembali. Karena tadi kami hanya sebentar di Curug Kembar, kali ini kami berhenti agak lama. Kembali berbasah-basahan dan mengambil beberapa foto.
Bermain air d Curug Kembar
Bermain air d Curug Kembar
Bermain air d Curug Kembar
Bermain air d Curug Kembar
Melewati Curug Kembar, kami tidak melewati jalur awal. Kali ini kami melewati jalur lain, langsung melewati bukit tidak menyusuri sungai yang melewati Curug Batu Sirep. Trek kali ini langsung menuju Curug Saderi. Treknya lebh singkat tapi lebih curam dibanding kalau kita menyusuri sungai.
Trek pulang menuju Curug Saderi
Trek pulang menuju Curug Saderi
Sampai di Curug Saderi sudah ada beberapa pengunjung. Di Curug Saderi kami kembali menghabiskan waktu lebih lama dibandingkan dengan di Curug Hordeng. Kami berbasah-basahan di aliran curug karena terdapat kolam-kolam yang tidak begitu dalam.Tidak banyak berubah debit air di curug ini dibandingkan kunjungan pertama di musim hujan lalu, padahal sekarng lagi musim kemarau. 
Trek pulang menuju Curug Saderi
Curug Saderi
Curug Saderi
Curug Saderi
Curug Saderi
Curug Saderi
Curug Saderi
Curug Saderi
Selagi di Curug Saderi, kang Ihir kembali ke saungnya dan bertemu kembali setelah kami puas bermain air. Nah buat kalian yang kemalaman, di saung kang Ihir bisa menginap. Di saung tersedia toilet dan kamar mandi, juga dapur. Nah, ayo jadwalkan waktunya berkunjung ke sini, menikmati suasana pegunungan, desa dan air terjun.
Saung kang Ihir
Saung kang Ihir
Baca juga:
- Curug Saderi dan Curug Cimanglid
- Curug Cikawah dan Curug Gleweran
- Curug Kembar dan Curug Walet
- Curug Batu Ampar, Curug Batu Susun dan Curug Bidadari
- Curug Kiara
- Curug Cikuluwung Herang dan Curug Emas

Senin, 30 Juli 2018

Terbaru 2020 - Ngungun Saok: Sekeping Surga yang Terlupakan di Kota Padang

Wisata Alam


Ngungun Saok, mungkin terdengar sangat asing bagi wisatawan meskipun berasal dari Padang dimana destinasi wisata ini berada. Destinasi ini mulai dikenal dan booming sekitar tahun 2015 lalu. Dan 2x mudik 2016 dan 2017 belum sempat ke sini dan Alhamdulillah terealisasi mudik kemaren tepatnya hari Kamis 21 Juni 2018.
Terletak sekitar 15 km dari rumah ke arah Air Dingin-Lubuk Minturun-Padang dimana lokasi ini sudah sangat terkenal dengan wisata pemandiannya dari jaman Siti Nurbaya hahahahha. Menggunakan motor, saya dan Revan menuju lokasi.
Dari jalan raya Padang-Bukittinggi, di pertigaan stasiun kereta ambil arah kanan menuju Lubuk Minturun. Sampai di jembatan dimana gerbang lokasi pemandian Lubuk Minturun terus saja hingga pertigaan. Dari pertigaan ambil kiri. Nanti di jalan kita akan melewati ABG Waterpark di sebelah kiri. Dari ABG ini masih berjarak sekitar 3km ke Ngungun Saok. Di sini jalannya masih beraspal, terus hingga sampai di jalan berbatu dan tanah merah.
Tidak beberapa jauh memasuki jalan berbatu, kita akan sampai ke Air Terjun Pincuran 7/Air Terjun 7 Tingkat, dimana saya sudah pernah kesini sebelumnya tapi cuman sampai 3 tingkatan dari 7 tingkatan. Nah dari air terjun ini ke parkiran Ngungun Saok sekitar 1 km lagi. Dari sini kalau membawa mobil tidak bisa dilanjutkan, hanya bisa dilewatin motor.
Kondisi jalan menuju ke lokasi
View dari parkiran ke lokasi
Jalan ini sebenarnya direncanakan akan terus ke Solok menembus Taman Nasional yang ada di Bukit Barisan tapi tidak tahu sekarang terhenti. Yang tersisa adalah jalan berbatu dan tanah merah.
View dari parkiran ke lokasi
Sampai di sebuah saung di tengah perkebunan (padahal ada plang peringatan bahwa daerah ini adalah hutan konservasi, kami parkir. Tidak terlihat seorangpun pengunjung ataupun masyarakat lokal. Berjalan sekiatar 100m di atas terlihat lagi sebuah saung dan plang petunjuk arah Ngungun Saok yang sudah roboh. Tidak terlihat seorangpun di sekitar saung juga penjaganya, otomatis cuman kami berdua. Di depan kami terlihat Bukit Barisan. Di depan saung terlihat jalan setapak menuju ke ngarai/lembah di bawah sana. Berdebat sebentar siapa yang turun duluan akhirnya saya turun duluan.
Papan petunjuk arah
Menuruni bukit
Suasana Bukit Barisan di depan mata
Suasana Bukit Barisan di depan mata
Meski agak was-was, kami berjalan terus menembus yang tingginya sekitar 2-3meter. Konon wilayah ini masih merupakan habitat harimau. Jadi sedikit ada gerakan di semak-semak sudah langsung waspada hahahaha. Meski trek nya tidak terlalu ekstrim tapi lumayan kerena turun terus hingga ke sungai. Hanya sekitar 30 menit-an kami mencapai pinggir bebatuan besar tebing sungai.

Dari atas tebing terlihat pemandangan yang begitu menakjubkan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.  Di depan terlihat sungai dengan air kolam yang berwarna hijau tosca. Di sisi seberang terlihat tebing bukit yang berdiri gagah seakan menjaga harta karun yang ada di kakinya.
 

 
Tidak pakai lama, kami pun turun ke bawah dan menceburkan diri di sungai. Di sisi kiri terlihat kolam besar yang terlihat tenang. Air mengalir melalui celah antara dua tebing yang membentuk seperti pintu segi empat. Kalo membaca info-info, melewati celah tersebut kita akan sampai di bagian yang tidak kalah bagusnya, terdapat air terjun kecil dan batu-batu besar yang menyebabkan suara sehingga lokasi ini di sebut Ngungun Saok (suara berdengung yang tertutup batu). Di area ini terasa aura mistis...
Suasana mistis
Suasana mistis
Suasana mistis
Suasana mistis
Suasana mistis
Suasana mistis
Loncat
Sementara itu, di aliran sebelah kanan juga tidak kalah cantiknya. Terdapat tebing berupa sebuah goa dan terlihat arus yang sangat deras dan membentuk kolam yang sangat dalam. Selanjutnya air mengalir memasuki lembah yang selanjutnya sampai di pemandian di bawah.
Kolam yang berwarna hijau tosca
Kolam yang berwarna hijau tosca
Kolam yang berwarna hijau tosca
Kolam yang berwarna hijau tosca
Kolam yang berwarna hijau tosca
Di tebing seberang terdapat air terjun kecil, tinggi namun airnya tidak begitu deras (apa karena kemarau?). Tapi enak juga berada di bebatuan di bawah air terjun ini.meski kecil tapi berasa sangat dingin.
Air terun kecil di tebing
Air terun kecil di tebing
Air terun kecil di tebing
Air terun kecil di tebing
Di tebing dekat air terjun saya melakukan loncatan, dan lumayan kolam yang ada di bawah dalam jadi tidak mencapai dasar.
Loncat di kolam yang dalam
Sesudah puas berenang kami pun kembali, kalau tadi turun, tentu saja sekarang treknya mendaki. Tapi tidak masalah karena sehabis berenang badan menjadi bersemangat. Dan sampai ke parkiran, tetap saja tidak terlihat satu orangpun di sekitar sini, baik pekebun maupun pengunjung.
Ngungun Saok, sekeping sorga yang terlupakan....
Trek pulang
Baca juga: